Saya tdk mudah percaya omongan orang 100%, klwpn sy percaya, mgkin cuma
bbrp %, lantas sisanya akan sy jdkan bahan utk mencari kebenaran dr
berita yg sy dengr.
Kalo sdh tidak percaya sama sekali, otomatis tidak akan sy gubris. It's not my problem.
Saya lebih percaya dg tindakan. Nyata. Bukan bualan omong kosong yg dipoles dg senyuman basi. Maaf bung sy tdk tertarik.
Terkait
dengan pilpres mendatang, ini menarik sekali. Sampai saat ini ada 2
pasangan pilpres yg nantinya akan mengisi acara puncak dalam pesta
demokrasi terbesar bangsa ini. (Kalo nambah, mungkin akan membuat
pestanya semakin meriah)
saya tidak tahu siapa yang nantinya akan
berpidato sebagai tuan rumah teranyar negeri ini. toh, saya tidak
kenal. hanya pernah melihat di televisi dan koran2. saya datang ke pesta
nanti karena di undang, seperti halnya anda dan tamu undangan lainnya
(dlm drpda itu, karena kitalah yang mengadakan pesta ini)
Ini
pesta terbesar yg diadakan setiap 5 th sekali. Sebagai pembuat acara,
kan sayang kalo kita tidak hadir. Apalagi pesta ini mengeluarkan biaya
yg amat besssar sekali. Dan itu semua diambil dari uang kita saat
membayar iuran wjb(pajak).
Dan lihatlah, kita ini bangsa hebat,
kita sebagai donatur tetap dalam pesta ini, kita tidak ribut membahas
siapa yg iurannya paling banyak, paling tinggi, paling wah. Bahkan
pakaian yg kita kenakan ke pesta nanti hanya pakaian sehari. Ibu2 dengan
baju kurung dan tudung kepala, brgegas dtg stelah menyelesaikan pkrjaan
rumahnya, bpak2 dg kemeja sederhana melangkah mantap dr rumah, selepas
dari sawah, bhkan kakek dan nenek kita melangkah patah2, menggamit
lengan, membantu pasangannya turun dr becak, mengembangkan senyum
bersahajanya, turut hadir "bukan karena pestanya nduk, kami dtg untk
melihat siapa tuan tnah yg baru dan memastikan dukungan orang tua ini
tidk disalahgunakan, semoga ia bisa mmbawa perubahan positif untuk tanah
kita ya nduk" itu yg mereka katakan saat aku bertanya kepo, menepuk
pundakku lantas berlalu mengisi presensi.
Kenyataanya? yang ribut
malah petinggi2 tanah di jakarta sana, mereka sibuk berkoalisi, sibuk
mencari dukungan, sibuk kampanye, sibuk sunting menyunting pasangan,
tawar menawar soal berapa kursi yg bisa anda sediakan? Apa manfaatnya
buat partai kami? Dan sebagainya dan sebagainya.
Hey, bukankah
ini pesta mlik rakyat? Pesta yg diambil dr uang2 kami untuk membayar
pajak? Lantas mengapa kalian yg ribut? Rusuh? Sudahkah anda wajib pajak?
Bukan hanya menggertak kami untuk wajib pajak, tp kalian malah menilap
uang kami. Yang katanya untuk pembangunanlah, infrastrukstur top,
sekolah gratis (tragis), kesehatan mudah dan murah dan bla bla bla. Tapi
apa? Jalan kami masih tanah dan berbatu, ke kota butuh waktu berhari2,
transportasi susah, gedung sekolah dan jembatan ambruk tanpa sebab dalam
hitungan bulan, rumah sakit mengabaikan kami yang tidak membawa apa2
selain surat keterangan miskin.
Sbelum tulisan ini luber kemana2, sy akan mempersingkatnya.
Yang namanya pesta, sudah jelas untuk bersenang2 bukan? (Meski kami masih tidak paham letak kesenangan dari pesta ini apa)
nah,
kalo nanti dalam pemilihan tuan tanah yg baru, anda yg mencalonkan diri
tidak terpilih menggantikan tuan tanah sebelumnya. Ayolah, tidak usah
gulana, galau, hilang napsu makan, atau hendak menuntut penghitungan
suara di ulang.
Bukankah kita sedang berpesta?
Tak usahlah cemberut, bersenang-senanglah, just enjoy the show.
Saran
saya buat bapak yg mungkin akan dilanda gulana, kalaupun bapak tidak
terpilih, bagi saya bapak tetaplah mulia, mencoba mensejahterakan dan
melayani bangsa ini, itu sungguh tindakan mulia. Diluar sana tidak
terhitung yg kerjaannya hanya protes menyalahkan pemimpin (yg pada
dasrnya mereka ini tdk mw dipimpin), sibuk menyalahkan yg memilih,
bangga tidak memilih, lantas ketika diminta untuk memimpin, mereka keok.
Mencicit. Mereka tidak lebih baik dr pemimpin sebelumnya.
Terkait
dg saran saya. Semoga Janji, visi, ambisi, tekad, rencana dan semua hal
yang bapak lantangkan dalam kampanye, tidak mandeg, tdk ptus, tdk
padam, tdk k.o hanya karena bpak tidak menjadi tuan tanah ini. Teruslah
berbuat baik. Derma kepada siapa saja. Tulus memberi pertolongan. Toh
menjadi pemimpin bukanlah satu2nya jalan merubah bangsa ini.
Pemimpin
itu bukan soal ambisi, prestige, kekuasaan, dan lain sebagainya.
Bukankah sahabat umar jauh2 hari mengingatkan kita soal ini, "janganlah
dr kalian memilih pemimpin yg terlalu berambisi"
Bapak calon
pemimpin yg amat mulia, sy amat bahagia kalau bapak melayani negeri ini
sepenuh hati. Membangun bangsa ini dengan prinsip dan komitmen tinggi.
Apalagi jika bapak mampu membawa perubahan besar bagi bangsa ini.
Sungguh,
tidak mudah menjadi pemimpin di negari ini, teramat banyak perbedaan yg
perlu disatukan. Itulah sebabnya kami memberikan mandat kami kepada
bapak yang dirasa mampu menemukan hikmah dalam perbedaan ini.
Semoga
dengan bapak menjadi pemimpin bangsa ini, kami bisa menangis bahagia
mengecap manisnya keadilan di tegakkan di negeri ini. :')Saya tdk mudah
percaya omongan orang 100%, klwpn sy percaya, mgkin cuma bbrp %, lantas
sisanya akan sy jdkan bahan utk mencari kebenaran dr berita yg sy dengr.
Kalo sdh tidak percaya sama sekali, otomatis tidak akan sy gubris. It's not my problem.
Saya lebih percaya dg tindakan. Nyata. Bukan bualan omong kosong yg dipoles dg senyuman basi. Maaf bung sy tdk tertarik.
Terkait
dengan pilpres mendatang, ini menarik sekali. Sampai saat ini ada 2
pasangan pilpres yg nantinya akan mengisi acara puncak dalam pesta
demokrasi terbesar bangsa ini. (Kalo nambah, mungkin akan membuat
pestanya semakin meriah)
saya tidak tahu siapa yang nantinya akan
berpidato sebagai tuan rumah teranyar negeri ini. toh, saya tidak
kenal. hanya pernah melihat di televisi dan koran2. saya datang ke pesta
nanti karena di undang, seperti halnya anda dan tamu undangan lainnya
(dlm drpda itu, karena kitalah yang mengadakan pesta ini)
Ini
pesta terbesar yg diadakan setiap 5 th sekali. Sebagai pembuat acara,
kan sayang kalo kita tidak hadir. Apalagi pesta ini mengeluarkan biaya
yg amat besssar sekali. Dan itu semua diambil dari uang kita saat
membayar iuran wjb(pajak).
Dan lihatlah, kita ini bangsa hebat,
kita sebagai donatur tetap dalam pesta ini, kita tidak ribut membahas
siapa yg iurannya paling banyak, paling tinggi, paling wah. Bahkan
pakaian yg kita kenakan ke pesta nanti hanya pakaian sehari. Ibu2 dengan
baju kurung dan tudung kepala, brgegas dtg stelah menyelesaikan pkrjaan
rumahnya, bpak2 dg kemeja sederhana melangkah mantap dr rumah, selepas
dari sawah, bhkan kakek dan nenek kita melangkah patah2, menggamit
lengan, membantu pasangannya turun dr becak, mengembangkan senyum
bersahajanya, turut hadir "bukan karena pestanya nduk, kami dtg untk
melihat siapa tuan tnah yg baru dan memastikan dukungan orang tua ini
tidk disalahgunakan, semoga ia bisa mmbawa perubahan positif untuk tanah
kita ya nduk" itu yg mereka katakan saat aku bertanya kepo, menepuk
pundakku lantas berlalu mengisi presensi.
Kenyataanya? yang ribut
malah petinggi2 tanah di jakarta sana, mereka sibuk berkoalisi, sibuk
mencari dukungan, sibuk kampanye, sibuk sunting menyunting pasangan,
tawar menawar soal berapa kursi yg bisa anda sediakan? Apa manfaatnya
buat partai kami? Dan sebagainya dan sebagainya.
Hey, bukankah
ini pesta mlik rakyat? Pesta yg diambil dr uang2 kami untuk membayar
pajak? Lantas mengapa kalian yg ribut? Rusuh? Sudahkah anda wajib pajak?
Bukan hanya menggertak kami untuk wajib pajak, tp kalian malah menilap
uang kami. Yang katanya untuk pembangunanlah, infrastrukstur top,
sekolah gratis (tragis), kesehatan mudah dan murah dan bla bla bla. Tapi
apa? Jalan kami masih tanah dan berbatu, ke kota butuh waktu berhari2,
transportasi susah, gedung sekolah dan jembatan ambruk tanpa sebab dalam
hitungan bulan, rumah sakit mengabaikan kami yang tidak membawa apa2
selain surat keterangan miskin.
Sbelum tulisan ini luber kemana2, sy akan mempersingkatnya.
Yang namanya pesta, sudah jelas untuk bersenang2 bukan? (Meski kami masih tidak paham letak kesenangan dari pesta ini apa)
nah,
kalo nanti dalam pemilihan tuan tanah yg baru, anda yg mencalonkan diri
tidak terpilih menggantikan tuan tanah sebelumnya. Ayolah, tidak usah
gulana, galau, hilang napsu makan, atau hendak menuntut penghitungan
suara di ulang.
Bukankah kita sedang berpesta?
Tak usahlah cemberut, bersenang-senanglah, just enjoy the show.
Saran
saya buat bapak yg mungkin akan dilanda gulana, kalaupun bapak tidak
terpilih, bagi saya bapak tetaplah mulia, mencoba mensejahterakan dan
melayani bangsa ini, itu sungguh tindakan mulia. Diluar sana tidak
terhitung yg kerjaannya hanya protes menyalahkan pemimpin (yg pada
dasrnya mereka ini tdk mw dipimpin), sibuk menyalahkan yg memilih,
bangga tidak memilih, lantas ketika diminta untuk memimpin, mereka keok.
Mencicit. Mereka tidak lebih baik dr pemimpin sebelumnya.
Terkait
dg saran saya. Semoga Janji, visi, ambisi, tekad, rencana dan semua hal
yang bapak lantangkan dalam kampanye, tidak mandeg, tdk ptus, tdk
padam, tdk k.o hanya karena bpak tidak menjadi tuan tanah ini. Teruslah
berbuat baik. Derma kepada siapa saja. Tulus memberi pertolongan. Toh
menjadi pemimpin bukanlah satu2nya jalan merubah bangsa ini.
Pemimpin
itu bukan soal ambisi, prestige, kekuasaan, dan lain sebagainya.
Bukankah sahabat umar jauh2 hari mengingatkan kita soal ini, "janganlah
dr kalian memilih pemimpin yg terlalu berambisi"
Bapak calon
pemimpin yg amat mulia, sy amat bahagia kalau bapak melayani negeri ini
sepenuh hati. Membangun bangsa ini dengan prinsip dan komitmen tinggi.
Apalagi jika bapak mampu membawa perubahan besar bagi bangsa ini.
Sungguh,
tidak mudah menjadi pemimpin di negari ini, teramat banyak perbedaan yg
perlu disatukan. Itulah sebabnya kami memberikan mandat kami kepada
bapak yang dirasa mampu menemukan hikmah dalam perbedaan ini.
Semoga
dengan bapak menjadi pemimpin bangsa ini, kami bisa menangis bahagia
mengecap manisnya keadilan di tegakkan di negeri ini. :')